Jangan takut buat gagal lagi (dan lagi..)

Success Rate 100% means you're not doing anything new.

Success Rate 100% means you’re not doing anything new.

Konon banyak perusahaan besar yang sangat memahami kegagalan karyawannya. Karena mereka beranggapan inovasi akan hadir dari setiap kegagalan yang ada.

Dengan success rate 100% berarti kita tidak melakukan sesuatu yang baru.

Tapi memang gak sedikit juga perusahaan yang tidak mau menerima kesalahan ataupun kegagalan karyawannya. Apalagi kegagalan yang kita lakukan memberikan financial impact yang cukup besar buat perusahaan. Trus apa yang harus kita lakukan sebagai karyawan kroco ini? Diam saja dan tidak berani melakukan sesuatu yang baru? atau tetap mencoba memberikan inovasi-inovasi dengan siap menerima resiko terburuk?….

Baca lebih lanjut

Iklan

Leadership is Action, Not Positon

Leadership

Siapapun kita. Apapun posisi atau jabatan kita di kantor. Dalam kehidupan kita akan menemukan diri kita dalam posisi yang menjadikan kita seorang pemimpin. Mungkin kita menjadi pemimpin di sebuah perkumpulan di rumah, di tempat ibadah, atau sampai memimpin sebuah organisasi internasional. Bahkan banyak dari kita, sebagai orang tua merupakan sebuah tanggung jawab sebagai seorang pemimpin.

Seperti judul di atas, kepemimpinan bukanlah tentang ‘posisi’ tapi adalah tentang tindakan. Ini lebih kepada kita, tindakan dan perbuatan kita, bagaimana kita mengambil keputusan, bagaimana kita memperlakukan orang lain, bagaimana kita mau mendengarkan orang lain, dan juga bagaimana kita siap menerima tanggung atas tindakan kita. Sebagai pemimpin, kita harus menyadari bahwa setiap tindakan adalah refleksi dari karakter kita, integritas kita dan kemampuan kita untuk menjadi manusia mulia.

Pada kenyataannya, kita semua memiliki peran kepemimpinan. Masing-masing dari kita harus membuat pilihan tentang bagaimana kita akan memimpin kehidupan kita. Bagaimana kita akan hidup? Apa pilihan yang akan kita buat? Bagaimana kita memperlakukan orang lain dan akan kami berusaha untuk membantu mereka yang kurang beruntung dari kita?  Pikirkan diri kita sebagai pemimpin. Luangkan waktu untuk berpikir melalui keputusan-keputusan dan tindakan kita, dan yang paling penting, do the right thing.

 

[kutipan]

 

untuk orang yang selalu mencaci tanpa aksi

emosiDua mata dua telinga satu mulut sebuah pertanda manusia sejati dituntut dua kali lebih banyak mendengar dituntut dua kali lebih banyak melihat dan lebih sedikit bicara. Manusia sejati mampu untuk menasihati bukan memarahi, manusia sejati dituntut untuk lebih mendengar bukan ingin selalu didengar, manusia sejati sedikit bertutur namun kaya makna.

Tentang mempertanyakan di mana sebuah kontribusi harus dimaknai . Saat ini mimpi hanyalah masa lalu, yang ada hanya terus berlari dan memberikan yang terbaik untuk sedikit melepas dahaga. Tapi penilaian hanya lahir atas apa yang belum digapai tanpa memaknai segala upaya untuk lainnya yang telah selesai dicapai. Sulitkah untuk terucap sebuah penghargaan? Sulitkah untuk terucap kalimat motivasi tanpa emosi?

untuk orang yang selalu mencaci tanpa aksi..

apa itu NLP?

Apakah NLP itu? NLP berawal dari tesis seorang mahasiswa, Richard Bandler, dengan profesornya, John Grinder pada tahun tujuh puluhan. Bandler ingin menjawab sebuah pertanyaan mendasar: kenapa seseorang bisa sukses sementara orang lain tidak? Setelah melakukan penelitian secara intens-sistematis, mereka menemukan sebuah jawabannya. Ternyata, orang-orang sukses dalam meraih keberhasilannya memiliki perilaku yang nyaris sama dalam hal strategi-strateginya. Kesemua strategi itu akhirnya dapat dikodifikasikan dan dimodelkan yang pada gilirannya dapat ditiru (dimodel) oleh orang lain yang ingin sukses.

Banyak definisi tentang NLP. Ada yang menyebut psikologi ekselensi. Ini tidak lepas karena melalui teknik-teknik NLP seseorang memungkin dirinya akan tumbuh menjadi manusia excellent. Dari tidak tahu potensi dirinya yang tersimpan di pikiran bawah sadar menjadi sadar untuk mengoptimalkannya.

Dari sekian definisi, ada satu definisi yang cukup representatif untuk mamahami apa itu NLP. Coolingwood (2005) mendefinisikannya “ NLP studies the way people take information from the world, how they describe it to themselves with their senses, filter it with their beliefs and value and act on the result”.

Baca lebih lanjut

CEO : dari anak pertama dan olahraga

Sebuah penelitian di London dilakukan kepada 100 CEO secara acak, ternyata hasilnya cukup unik dan terkesan mengada-ada namun cukup menarik untuk sedikit diamati. Ternyata yang menjadi CEO saat ini yang dibutuhkan bukan semata kemampuan akademik yang menonjol tetapi lebih kepada kecakapan di bidang olah raga. 7 dari 10 dari mereka ternyata memiliki prestasi yang cukup gemilang di bidang olah raga ketimbang prestasi akademiknya.

Mereka yang cukup aktif bahkan berprestasi di olahraga akan mempengaruhi dalam pengembangan mindset untuk memiliki visi dan misi yang jelas dan juga mengembangkan kemampuan bersosialisasi dan bekerja dalam tim untuk mencapai tujuan bersama.

Selain itu dari penelitian tersebut terlihat bahwa berdasarkan statistik 38% CEO yang disurvei merupakan anak pertama dan dilanjutkan 34% untuk anak terakhir di posisi kedua.

Hmm.. Kalau dilihat mungkin seorang anak pertama dalam keluarga biasanya dituntut untuk memiliki tanggung jawab yang lebih besar dibanding adiknya. Sedangkan untuk anak terakhir biasanya mereka berusaha untuk berjuang untuk menunjukkan dominasi dan eksistensi dari kakaknya. Nilai-nilai itulah yang mungkin membentuk karakter seseorang sehingga mempengaruhinya dalam berkarir sehingga sukses dalam mengelola perusahaan.

lihat detail berita portalhr.com

Know-How: 8 Keterampilan yang Menjadi Ciri Pemimpin Sukses

Judul Buku: 8 Keterampilan yang Menjadi Ciri Pemimpin Sukses
Pengarang: Ram Charan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2007
Jumlah halaman: 274
Penulis Resensi: Sri Marlina

Dunia mengenalnya sebagai tempat bertanya bagi para CEO perusahaan terkemuka. Sebut saja General Electric, DuPont, Verizon, The Home Depot, KLM, Thomson Corporation, dan banyak lainnya. Berbagai majalah bisnis internasional pun berebut melekatkan julukan padanya. Fortune menyebutnya sebagai The Most Influential Consultant. Majalah Newsweek menulis tentangnya dalam artikel berjudul “Why do CEO’s Love Him?”. Bahkan, Businees Week memasukkannya sebagai 10 narasumber utama program in-house executive development bagi perusahaan besar kelas global.
Dr. Ram Charan, seorang konsultan bisnis wahid, dilahirkan 68 tahun yang lalu di Uttar Pradesh–negara bagian sebelah utara India. Penulis buku Leaders at All Level dan What the CEO Wants You to Know serta co-author buku laris Execution ini dikagumi oleh para pelaku dan pengamat bisnis karena kepraktisannya dalam memecahkan masalah-masalah mereka. Berbeda dengan kebanyakan konsultan yang mengkhotbahi dengan presentasi lengkap power point, Ram Charan dikenal karena metode “wise man”-nya dimana ia akan lebih banyak meluangkan waktu untuk berbincang-bincang dengan CEO dan para manajemen lini perusahaan. Ia akan merendam egonya, bertanya kepada mereka dan berusaha membawa para manajer ini sampai akhirnya menemukan “aha-moment” mereka sendiri.

Dalam bukunya Know How ini, Ram mengemukakan teori besar mengenai kepemimpinan, yaitu keahlian yang dimiliki oleh orang-orang yang mengetahui persis apa yang mereka lakukan.

Secara garis besar, kedelapan butir “know-how” adalah:

1. Positioning (dan bila perlu, repositioning) bisnis dengan fokus pada ide utama yang memenuhi unsur apa yang dibutuhkan oleh pelanggan dan apa yang menghasilkan uang.
2. Menyimpulkan dengan mengidentifikasi pola perubahan eksternal selangkah di depan dari orang lain.
3. Membentuk budaya kerja dengan cara menjadi pemimpin dalam sistem sosial perusahaan.
4. Memberi penilaian terhadap orang lain dengan cara mengenal keseluruhan dari dirinya atau kepribadiannya.
5. Membentuk orang-orang yang berenergi tinggi, berpengaruh dan berego besar menjadi sebuah tim kerja pemimpin dimana nilai mereka lebih tinggi dibandingkan jumlah keseluruhan mereka
6. Tahu akan arah bisnis yang ingin dituju dengan mengembangkan tujuan yang menyeimbangkan potensi bisnis dengan pencapaian nyatanya.
7. Menetapkan prioritas utama dan jelas sebagai road map dalam mencapai tujuan bisnis.
8. Menangani tekanan sosial yang timbul melampaui kegiatan ekonomi perusahaan dengan cara positif dan kreatif.

Buku ini dibagi menjadi 9 bagian utama. Bagian pertama mengulas inti pemimpin yang sukses, bagian kedua mengenai bagaimana melakukan positioning dan repositioning bisnis untuk menghasilkan uang, bagian ketiga dan keempat membahas untuk menyimpulkan dan mengidentifikasi dan menindaklanjuti pola perubahan eksternal yang bermunculan sambil membuat orang bekerjasama dengan mengelola sistem sosial bisnis kita.

Bagian kelima menceritakan cara pemimpin dibuat, kemudian membentuk tim pemimpin setelah itu menentukan dan menetapkan target yang telah dicapai dibahas di bagian keenam dan ketujuh. Dua bagian terakhir mengulas tuntas mengenai pentingnya menetapkan prioritas utama yang setajam laser serta bagaimana menangani kekuatan sosial yang beredar di luar pasar.

Pada halaman akhir masing-masing bagian, Ram memudahkan pembacanya dengan menyimpulkan inti dari masing-masing pembahasan. Salah satu bagian yang paling menarik adalah ketika Ram menulis surat untuk pemimpin masa depan serta merangkum butir-butir delapan Know-How dan karakter pribadi yang dapat membantu atau sebaliknya menghalangi Know-How, yang disajikan di bagian akhir buku ini. Ditulis dengan gaya yang lugas dan bahasa yang mudah untuk dimengerti pembacanya, buku ini sesuai untuk mereka yang sedang belajar menjadi pemimpin.

Pendek kata, “know-how” adalah missing link dalam kepemimpinan. Tidak diragukan lagi kecerdasan bahwa visi dan kemampuan berkomunikasi itu penting, namun ada sesuatu yang besar hilang di situ –apakah itu? Jawabnya, Know-How dalam menjalankan perusahaan, yakni kapasitas untuk menjalankan dalam arah yang benar, melakukan hal yang benar, mengambil keputusan yang benar, memberikan hasil dan meninggalkan orang-orang dan perusahaannya lebih baik dari kondisi sebelumnya. Ram Charan memberikan gambaran lengkap, dengan cara yang inovatif, para pemimpin yang sukses di abad ke-21 ini kepada kita semua. Ditunjukkan saling keterkaitan antara delapan butir know-how dalam berinteraksi dengan –dan memperkuat– karakter baik pribadi maupun psikologis.