Training, Karyawan Pintar Perusahaan Untung-kah?

j0433088Setiap tahunnya banyak perusahaan yang sudah mengalokasikan budget yang cukup besar untuk kegiatan pelatihan bagi karyawan2nya. Namun yang terjadi kebanyakan training dilakukan hanya dengan mengundang karyawan tersebut training dan tidak ada langkah-langkah sistematis pasca kegiatan training tersebut dilakukan.

Perusahaan-perusahaan sudah merasa selesai melakukan tugasnya dengan telah melakukan training need analysis (TNA) lalu melakukan event training tersebut. Lantas bagaimana dengan evaluasi pelatihan? Beberapa perusahaan di Indonesia masih melakukan pendekatan evaluasi pelatihan berdasarkan reaksi karyawan tersebut pada saat melakukan pelatihan, bagaimana materinya, bagaimana performance trainernya, akan tetapi data-data tersebut hanya menjadi kepentingan administrasi semata tanpa ada tindak lanjut lagi.

Oleh karena itu, tindak lanjut dari pelaksanaan training memang perlu dilakukan karena dari beberapa penelitian tanpa adanya tindak lanjut biasanya dalam 3-4 bulan karyawan akan lupa terhadap materi yang telah disampaikan sebelumnya. Bagaimana tindak lanjut yang paling ideal terhadap pelaksanaan training?

Baca lebih lanjut

My Knowledge : Aplikasi KM pada Indosat

Agustus ini PT Indosat Tbk. akan meluncurkan portal Knowledge Management (KM) yang diberi nama My Knowldege. Lahirnya portal ini bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk keseriusan Indosat mengenai pentingnya KM. Manager Learning and Capabilities Management Indosat Endy Junaedy Kurniawan menjelaskan fenomena yang berkembang di banyak perusahaan saat ini. Menurutnya pengguna e-learning masih mengurusi KM dari sisi TI-nya semata, seperti learning management system, infrastrukstur, dan bandwith ke komputer karyawan. Sementara yang dilakukan Indosat ketika memulai program ini justru sebaliknya. “Kami menggunakan pendekatan sebaliknya. Buat kami yang penting aspek humanisnya. Learning management, system atau hardware-nya bisa diurus belakangan. Pokoknya disosialisasikan dulu ke karyawan,” papar Endy.

Secara umum konsep KM memiliki enabler atau dukungan teknologi informasi (TI). Namun, Indosat mencoba memelintir konsep umum tersebut dan melawan arus dengan memulai KM tanpa enabler yang mumpuni. “Yang memberikan semangat di dalam implementasi KM adalah manusianya. Sehingga kami memikirkan portal-nya belakangan,” kata Endy. Dijelaskannya bahwa Indosat mengutamakan aspek penerimaan karyawan terhadap KM. “Yang penting mereka merasakan manfaatnya, seru, dan senang,” ujarnya. “Semua proses pembangunan portal baru bergulir begitu muncul keinginan untuk membuat rumahnya. Dari situ barulah kami buat rumahnya, yaitu portal My Knowledge,” ia menambahkan.

KM bisa diterapkan dari inisiatif-inisiatif sederhana yang dilakukan setiap hari. “Beberapa fungsi bisa tetap berjalan. Misalnya, karyawan sering mengadakan unit sharing di antara mereka. Demikian pula dengan kebijakan training. Ada kewajiban sharing sepulangnya dari training,” papar Endy memberi contoh. Diakuinya, berbagai program KM baru dikemas secara utuh awal tahun ini. “Salah satu kebijakan dan strategi perusahaan dalam membangun kapabilitas SDM adalah dengan membangun learning organization,” katanya menjelaskan alasannya.

Tahun ini boleh dibilang Indosat cukup sering menjalankan knowledge sharing. Jumlah karyawan yang dilibatkan juga makin banyak. Sekadar contoh, dalam tiga bulan ini skalanya cukup besar, yaitu 60-100 orang. “Sekaligus kami menyiapkan portal-nya. Sederhana saja, sama seperti portal lain,” ujar Endy. Nantinya portal My Knowledge menjadi menu paling depan ketika diakses oleh karyawan. “Sebelumnya Indosat sudah punya portal pembelajaran yang diberi nama my library dan my learning,” jelasnya.

Fitur-fitur utama di portal itu adalah sejarah Indosat, sharing forum, dan ahli kita. “Fitur ahli kita, misalnya, ahli di bidang teknologi satelit, selular, dan bisa langsung bertanya. Nanti langsung terakses ke menu expert. Si expert-nya akan menjawab lewat email,” tutur Endy menjelaskan. Untuk membangun infrastrukturnya Endy tidak merasakan kerumitan yang berarti karena basis Indosat adalah teknologi. “Computer literacy karyawan sudah tinggi. Artinya kita sudah terbiasa tiga atau empat tahun belakangan ini melakukan berbagai aktivitas dengan komputer. Mulai dari internet dan email, maupun aplikasi yang menyangkut kepegawaian,” paparnya.

Selain dapat menjadi tempat belajar bagi karyawan, peluncuran My Knowledge ditujukan untuk mengurangi porsi training (pelatihan) karyawan. Portal-nya sendiri dikerjakan oleh tim kecil yang terdiri dari tiga orang dibantu konsultan untuk percepatannya. Dua atau tiga orang itu yang menyiapkan requirement. “Technical requirement dan function requirement dibangun sesuai dengan kemampuan kami. Sementara untuk membangun portal-nya kami dibantu para expertis,” tutur Endy.

Endy mengungkapkan, selama ini inisiatif yang datang dari ahli TI tidak sepenuhnya sukses karena biasanya mereka terlalu memfokuskan KM pada sistem TI dan fitur-fiturnya. “Memang idealis, tapi akhirnya tidak terbeli. Padahal sebenarnya sisi TI-nya tidak harus tinggi,” ujarnya. Nah, jika inisiatifnya datang dari orang-orang HR, hasilnya menjadi berbeda karena pendekatannya lebih ke aspek SDM. “Bicara aksesibilitas, cepat atau lambat kami akan bergerak ke device-device yang lebih kecil, misalnya mobile. Di e-learning kami sudah berpikir untuk membuatnya menjadi mobile learning. Tidak perlu ke kantor tapi bisa pakai laptop atau PC, dan virtual private network (VPN) yang bisa diakses dari telepon selular. Mungkin nanti KM pun larinya ke sini,” kata Endy berharap.

Ketika wawancara berlangsung Juli lalu, Endy membeberkan bahwa persiapan portal My Knowledge sudah mencapai 90%. Sisanya yang 10% terkait dengan masalah teknis. “Saat ini portal belum tertanam di server yang didedikasikan untuk portal. Sekarang ini karena masih dalam fase pembangunan maka dia masih ngendon di server sementara (di unit PC yang disiapkan untuk pembangunan ini-red).” Endy memberitahu. Ia berpendapat sebenarnya kapasitas yang diperlukan untuk My Knowledge tidak perlu khusus. “Numpang satu slot (laci-red) juga bisa dan hardware tidak terlalu dipikirkan,” katanya.

Yang jelas, Endy berupaya agar fasilitas ini tidak dimulai dari yang rumit, tapi sebaiknya tepat. “Jadikan program tersebut fun dan dibutuhkan. Kalau terlalu canggih nanti malah dijauhi. Jadi buat yang simple saja,” tuturnya memberi saran.

kutipan : portalhr

PT Rekayasa Industri — Indonesia MAKE Award Winner 2008

Indonesia’s Most Admired Knowledge Enterprises [Date Added : 07/16/2008 ]
Dunamis Organization Services, in association with Teleos and The KNOW Network, has announced the Winners of the fourth annual Indonesian Most Admired Knowledge Enterprises (MAKE) study.

Dunamis announced and recognized the 2008 Indonesian MAKE Winners at a gala Indonesian MAKE Awards ceremony in Jakarta on July 15, 2008.

The 2008 Indonesian MAKE Winners are:

1. Astra International (Diversified Manufacturing)
2. XL (Telecommunications)
3. Telkom Indonesia (Telecommunications)
4. UT – United Tractors (Heavy Equipment Supplier)
5. Medco Energi Internasional (Oil & Gas)
6. WIKA (Construction)
7. IBM Indonesia (IT & Solutions)
8. Institut Teknologi Bandung (Education)
9. BCA – Bank Central Asia (Financial Services)
10. TNT Indonesia (Mail, Package, Freight Delivery)
11. Binus University (Education)

12. Rekind – PT Rekayasa Industri (Engineering)
13. LOWE Indonesia (Advertising)
14. PLN – Perusahaan Listrik Negara (Utilities)
15. Indonesia Power (Utilities)

The Indonesian MAKE study is an established benchmark which recognizes Indonesia’s leading organizations for their ability to leverage enterprise knowledge to deliver superior performance in the areas of innovation, operational effectiveness and excellence in products and services.

A blue-ribbon panel of Indonesian business leaders and knowledge management experts selected the 2008 Indonesian MAKE Winners based on submissions of their Company Knowledge Profiles. A specially-trained team from Dunamis verified the submitted information and followed up by interviews with representatives from each Finalist. An Independent Panel reviewed the results to verify and validate the scoring.

The 2008 Indonesian MAKE expert panel ranked the companies against the MAKE framework of eight key knowledge performance dimensions that are the visible drivers of competitive advantage:

– creating a corporate knowledge-driven culture
– developing knowledge leaders
– delivering superior knowledge-based products/services
– maximizing enterprise intellectual capital
– creating a collaborative enterprise environment
– creating a learning organization
– delivering value based on customer knowledge
– transforming enterprise knowledge into shareholder value

A total of 94 Indonesian organizations were nominated for the 2008 Indonesian MAKE Award. From this group of nominees, 18 organizations were recognized as 2008 Indonesian MAKE Finalists.

For the first time, Astra International has been named the overall Winner in the Indonesian MAKE study. Astra International is a diversified business group operating in fields of automotive, financial services, heavy equipment, agribusiness, information technology, and infrastructure. To create a common vision and gain the commitment of management and almost 120,000 employees, Astra International has developed a framework of ‘mind and work’ called InnovAstra. InnovAstra serves as a virtual reactor and catalyst for institutionalizing the systematic innovation process in order to achieve peak company performance.

The top three Indonesian MAKE Winners – Astra International, XL and Telkom Indonesia – automatically become Finalists in the 2008 Asian MAKE study. The Winners of the 2008 Asian MAKE study will be announced on October 15, 2008, at the World Knowledge Forum in Seoul, South Korea.

Knowledge Management : an illustrated guide

Mau sharing lagi nih catutan dari berselancar di dunia maya.. tentang knowledge management..

mungkin bermanfaat buat yang nyari bahan2 referensi.

1. an illustrated guide to knowledge management (2,606 KB)

2. enterprise knowledge management (713 KB)

3. what is km (102 KB)

A little knowledge that acts is worth more than much knowledge that is idle

– Kahlil Gibran

Laporan dari Savoy Homann

26 – 27 Juni 2008, Savoy Homann Bandung

Akhirnya saya diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan mengenai Knowledge Management di Bandung. Training ini diadakan oleh Sharing Vision dengan pembicara Bapak Arry Akhmad Arman seorang akademisi asli Bandung. Training yang bertopik “Knowledge Management Booming 2008 : Towards KMS 2.0” ini secara umum dibagi menjadi beberapa sesi yaitu :

  1. Understanding Web 2.0, Wikinomics & Crowdsourcing Revolution
  2. The New Information & Knowledge Sharing Culture, The Technology and Its Impact on Knowledge Management Booming in Enterprise 2008
  3. The Adoption of Web 2.0 and Crowdsourcing in the New Knowledge Management System
  4. Building Successful web 2.0 Knowledge Management System 2008

Secara umum saya ingin bercerita bahwa teknologi informasi yang berkembang saat ini sangat mendukung perkembangan knowledge management yang digunakan masing-masing perusahaan. Teknologi web 2.0 yang saat ini cukup marak diperbincangkan, ternyata dilihat secara teknis tidak memiliki perbedaan signifikan dengan teknologi web 1.0

apa yang menjadi perbedaan pada teknologi web 2.0 hanya memberikan kesempatan kepada para pengguna untuk saling berinteraksi dan berkolaborasi

Dengan semangat berkolaborasi inilah web 2.0 sangat berselaras dengan semangat yang diusung oleh Knowledge Management System yang amat sangat mengedepankan information sharing dan kolaborasi sehingga tercipta suatu collaborative intelligence.

knowledge is power but sharing knowledge is more powerful

Oleh karena saya coba ingin berbagi sedikit tentang apa yang saya peroleh dari training tersebut.

report-training-km-2008