Cuaca Ekstrim Jakarta dan Sekitarnya

Ilustrasi Cuaca Ekstrim

Akhir-akhir ini Jakarta dan sekitarnya sering terjadi cuaca yang boleh terbilang cukup ekstrim. Pada siang hari matahari terasa begitu terik, namun beberapa jam kemudian langit mendadak gelap dan kemudian terjadi hujan cukup lebat disertai dengan angin kencang. Dan setelah 1-2 jam cuaca pun kembali cerah.

Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika Jakarta terkena hujan, maka pasti banjir pun mulai terjadi, atau kalau menurut Fauzi Bowo itu bukan banjir tapi ‘genangan’. (ini kalo dalam pelajaran bahasa Indonesia dulu namanya majas litotes). Maka kemacetan akan terjadi dimana-mana. Perjalanan pulang yang biasanya dapat ditempuh 1-1,5 jam saja kini harus ditempuh menjadi 2-3 jam. Dan tahukah kalian, kalau kemacetan di Jakarta itu mengakibatkan kerugian seluruh warga Ibu Kota mencapai 28 Triliun per tahunnya. Wow.. coba bayangkan bisa beli berapa Cristiano Ronaldo tuh..

Nah, saya pun akhirnya iseng browsing-browsing sebenernya apa yang sedang terjadi di langit Jakarta akhir-akhir ini. Dan ternyata menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa  cuaca ekstrim akan berlangsung hingga Febuari 2011. Dalam enam bulan mendatang, masyarakat diminta untuk mengantisipasi keadaan ini.

Menurut Kepala BMKG, Sri Woro Budiati Harijono, pada masa peralihan musim ini yang perlu diwaspadai adalah adanya Lalina dan pemanasan temperatur laut yang membuat cuaca tidak menentu. Penyebab utama cuaca ekstrim adalah adanya ekspansi vertikal awan, curah hujan yang meningkat dan berpeluang menyebabkan puting beliung. (sumber : VIVAnews)

Dari sumber lain mengatakan juga bahwa menjelang bulan November, wilayah Indonesia memasuki musim pancaroba. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, pada musin pancaroba, kerap kali terjadi cuaca ektrim di wilayah-wilayah tertentu. “Bisa terjadi hujan lebat antara 1 hingga 2 jam, angin ribut. Maksimalnya hujan es,” kata Kepala Sub Bidang Cuaca Ekstrim, Kukuh Ribudiyanto, saat dihubungi Tempo, malam ini.

Menurut Kukuh, hujan es bisa saja terjadi jika awan cumulo nimbus atau awan lokal pertumbuhannya menjadi tinggi dan diameternya melebar. Cuaca ekstrim itu bisa terjadi di mana saja, dengan ciri-ciri terjadi kelembapan tinggi dan terjadi pemanasan wilayah karena radiasi matahari. “Kemudian muncul awan seperti kapas dan berwarna pekat. Itu awan cumulo nimbus,” kata Kukuh.

Cuaca ekstrim tersebut biasa terjadi di musim pancaroba. Khusus untuk di wilayah Indonesia, musim pancaroba terjadi sebelum akhir Oktober atau awal November. Namun, menurut Kukuh, cuaca ekstrim juga bisa terjadi di musim penghujan. (sumber : TempoInteraktif)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s