Tragedi Negeri Biru

Fabio Cannavaro - Kapten Tim Italia

Tanpa terasa piala dunia 2010 yang berlangsung di Afrika Selatan sudah hampir berakhir. Banyak cerita-cerita unik yang terjadi di dalamnya. Mulai dari gangguan vuvuzela yang banyak diprotes negara peserta, sampai dengan bola Jabulani yang dinilai terlalu ringan sehingga menyulitkan pemain untuk mengontrol. Sampai dengan Paul the Octopus sang peramal yang memberikan nuanasa klenik di Piala Dunia kali ini. Namun, semua itu akan menjadi sebuah catatan sejarah indah untuk sejarah Sepakbola dunia khusunya Afrika.

Namun, ada satu catatan lain buat piala dunia kali ini yang saya amati. Di mana banyak negara-negara unggulan yang harus berguguran di fase-fase awal. Sebut saja Prancis yang harus pulang kampung paling awal. Kemudian sang Juara Eropa 2004 Yunani, dan terakhir favorit saya, adalah sang Juara Dunia 2006 Italia. Sebuah tragedi dan sejarah baru di mana finalis piala dunia 2006 Prancis dan Italia harus gugur di fase penyisihan grup.

Dan semua negara itu adalah negara yang semuanya berseragam Biru. Sepertinya Afrika bukan tempatnya biru untuk berkibar. Hal ini berlanjut pada fase selanjutnya, sebut saja setelah Prancis, Italia, dan Yunani, dilanjutkan dengan negeri2 ‘biru’ lainnya. Jepang, Serbia, Argentina. Hanya tim Uruguay yang bisa memberikan kejutan kali ini, walau akhirnya mereka ‘hanya’ berhasil sampai semi final.

Italia, yang mendapat julukan dari media ‘Dad Troop’ karena memang rata2 usia mereka di atas 30 tahun dan sudah memiliki anak kalau menurut saya adalah paling tragis. Penampilannya sangat2 mengecewakan. Di mana di tahun 2006 hanya kebobolan 2 gol selama piala dunia berlangsung yakni 1 gol bunuh diri dan 1 gol merupakan dari hadiah penalti. Kini di tahun 2010 ini mereka selalu kebobolan di setiap pertandingannya. Cannavaro yang dulu seperti benteng kokoh yang sulit dilalui, kini dengan mudahnya ditembus bahkan oleh tim2 kelas dua sekelas Selandia Baru. Saya pikir kita harus bersabar untuk beberapa dekade ke depan melihat Italia membangun kembali tim-nya yang miskin penerus.

Yap. Piala Dunia selalu punya cerita. Selalu punya kejutan dan tidak selalu sesuai dengan komentator. Piala Dunia bukan matematika yang memberikan hasil pasti. Seperti hidup, kadang semua terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Yang bisa kita lakukan hanya terus berusaha dan berserah diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s