Salut untuk film My Name is Khan

My Name Is Khan

Minggu lalu setelah berbulan-bulan tidak menginjakkan kaki ke bioskop. Jika tidak ada permintaan dari sang istri mungkin saya lupa bentuk bioskop kayak apa.. (lebay deh).  Akhirnya kami pun berencana nonton. Setelah browsing dan tanya2 adik, direkomendasikanlah untuk menonton film My Name is Khan. Sudah lama memang beredar tapi katanya film ini layak ditonton. Karena selain bayar cukup murah 25rb untuk film berdurasi 3jam, tapi esensi film nya luar biasa.

My Name Is Khan bercerita mengenai perjalanan seorang bernama Rizvan Khan. Pada awal film, sebelum naik ke pesawat menuju Washington, Rizvan Khan yang menderita penyakit autisme berjenis Asperger’s Syndrome dicurigai dan digeledah di bandara. Ketika tidak ditemukan sesuatu apapun yang mencurigakan pada dirinya, sang polisi keamanan bandara bertanya apa yang hendak dilakukan Rizvan di Washington. Jawaban Rizvan singkat tetapi mengagetkan sang polisi (juga para penonton); ia ingin menemui pak Presiden dan menyampaikan pesannya bahwa “My name is Khan. And I am not a terrorist”.

Pernyataan ini membuahkan berbagai pertanyaan di benak kita. Siapakah orang bernama Rizvan Khan sebenarnya? Kenapa ia begitu ngotot ingin menemui sang presiden? Dari sini masa lalu Rizvan perlahan disingkap secara perlahan. Kita diajak untuk mengenali sang anak kecil yang tumbuh dalam kemiskinan di India dan berangkat ke Amerika untuk setelah kematian sang bunda untuk mengubah nasibnya. Kendati memiliki seorang adik di sana, bukan hal mudah bagi seorang penderita Asperger’s Syndrome mendapatkan tempat di masyarakat.

Acap kali Rizvan akan dianggap aneh karena kesulitan bersosialisasi dengan orang. Toh, dengan semua keterbatasan tersebut, itu tidak menghalangi Rizvan untuk jatuh cinta dengan seorang gadis penata rambut bernama Mandira. Perlahan demi perlahan, ketulusan hati Rizvan membuat Mandira juga jatuh hati kepadanya. Gayung pun bersambut; tak peduli walau agama mereka berbeda (Mandira seorang Hindu), mereka pun menikah. Kehidupan Rizvan kini sempurna.

Ah, andaikata segalanya dalam hidup begitu sederhana. Kehidupan damai Rizvan kemudian tercabik hancur dalam satu hari: 11 September 2001. Itu adalah hari yang tercatat dalam sejarah di mana Islam menjadi musuh seluruh dunia; dan Rizvan pun bukan perkecualian. Disinilah perjuangan seorang Rizvan dengan ketulusannya mencoba berjuan dan membuktikan bahwa Islam bukan lah agama teroris. Dan tidak semua Islam adalah teroris.

Sebuah film dengan menggunakan latar belakan tragedi 9/11 namun dilihat dari sudut pandang yang lain. Dari sudut pandang seorang muslim amerika keturunan India yang mendapat perlakuan semena-mena oleh warga Amerika. Salut buat My Name is Khan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s