berpindah relatif

jejak langkahMungkin sering kita merenung sebenarnya esensi kita hidup untuk apa? Manusia selalu berharap untuk mendapatkan hari esok yang lebih baik minimal bagi dirinya sendiri. Dalam melihat hari esok manusia memiliki ribuan alasan, mulai dari sesuatu yang simpel sampai dengan sesuatu yang kompleks yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh manusia yang lain. Tapi semua memiliki kesamaan, semua harus bergerak dari satu titik awalan dan berpindah relatif mendekati segala tujuannya.

Dalam setiap langkah yang kita tempuh, dibalik segala harapan dan mimpi2 yang kita bangun mungkin tersimpan ketakutan yang sering mengusik. Ketakutan yang hadir membuat kita terhambat dalam melangkah atau bahkan menghadang segala mimpi yang ingin kita raih. Dari ketakutan timbul-lah keraguan dan luntur lah segala hasrat dan keyakinan kita untuk melangkah.

Apa yang kita takuti akan menjadi sebuah fakta apabila kita menyerah dalam keadaan. Dalam melangkah dan kemudian kita menghadapi sebuah dinding, itu bukanlah sebuah akhir. Mungkin dengan bantuan doa dan dukungan dari orang-orang yang kita cintai akan membuat kita lebih tegar. Kekurangan yang ada pada tiap individu jangan membuat kita merasa tertinggal, merasa tercampakkan, merasa disepelekan.Tuhan menciptakan jalan unik bagi masing-masing individu. Di setiap nafas kita tersimpan jalan dan harapan untuk mencari celah mencapai tujuan.

Teruslah berharap untuk sesuatu yang baik karena sesuatu yang baik akan datang sesudahnya..

Saya cuplik sebuah tulisan:

Bila anda memandang diri anda keciI, dunia akan tampak sempit, dan tindakan anda pun jadi kerdiI. Namun, bila anda memandang diri anda besar, dunia terlihat luas, anda pun melakukan haI-hal penting dan berharga.

Tindakan anda adalah cermin bagaimana anda melihat dunia. Sementara dunia anda tak lebih luas dari pikiran anda tentang diri anda sendiri. Itulah mengapa kita diajarkan untuk berprasangka positif pada diri sendiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiran kita.

Padahal dunia tak butuh penilaian apa-apa dari kita. Ia hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat. Ia menggemakan apa yang ingin kita dengar. Bila kita takut menghadapi dunia, sesungguhnya kita takut menghadapi diri kita sendiri. Maka, bukan soal apakah kita berprasangka positif atau negatif terhadap diri sendiri. Melampaui di atas itu, kita perlu jujur melihat diri sendiri apa adanya. Dan dunia pun menampakkan realitanya yang selama ini tersembunyi di balik penilaian-penilaian kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s