Tiba-tiba, Menjadi Orang Amerika Itu Keren

usaKemenangan Obama bagi orang Amerika Serikat di perantauan sangat besar. Setidaknya seperti William J. Kole, kepala biro kantor berita AP di Wina, Austria, yang tiba-tiba saja dicium seorang perempuan tak dikenal. Gara-garanya sepele: ia orang Amerika dan Obama baru saja menang.

Kejadiannya muncul saat Kole berada di bus pada pagi hari, beberapa jam setelah Obama dipastikan menang dan John McCain menyatakan kalah. Di bangku yang berhadapan dengan wartawan yang meliput Wina sejak 1995 itu, duduk seorang gadis 20-an tahun.

Kole menelpon dengan bahasa Inggris logat Amerika, yang agaknya terdengar bagi si gadis itu. Tanpa berbicara apapun, si gadis langsung menciumnya dan turun di halte berikut.

Ia tidak mengatakan apa-apa. Tapi isyarat yang diungkapkan si gadis itu jelas: mereka senang setelah Obama menang.

Artinya juga kebalikannya: mereka tidak senang jika George Bush diteruskan orang separtainya seperti McCain.

Bagi orang seperti Kole, yang hidup di rantau, menjadi orang Amerika di masa Bush memang tidak menyenangkan. Anda menjadi sasaran caci maki atau kemarahan atas kebijakan luar negeri Washington.

Setidaknya, And menjadi semacam orang yang selalu meminta maaf karena Bush mengebom ini atau tentaranya menyiksa itu. Anda merasa malu dan sendiri.

Kole tidak pernah lupa saat ia naik taksi di Wina di masa dunia diguncangkan berita penyiksaan tawanan di Guantanamo.

Si sopir taksi, yang penampilannya jelas seorang muslim, bertanya dengan nada menuduh, “Anda orang Amerika?”

“Ah,” kata Kole berbohong. “Saya orang Kanada.”

Dan itu bukan pertama kali Kole berbohong dari mana ia berada. Untung saja Kole bisa tiga bahasa asing di luar bahasa ibunya, Inggris. Jadi, saat berada di Serbia ia mengaku orang Jerman. Saat di Turki mengaku Prancis. Saat di Austria mengaku Belanda.

Tahu lalu pemerintahan Bush resmi mengaku kemerdekaan Kosovo dari Serbia. Seorang Serbia, yang mendengar Kole berbicara Inggris berlogat Amerika, melemparkan kaleng bir.

Untung lemparan itu tidak kena. Tapi si orang Serbia masih melanjutkan dengan makian “Amerikanac”.

Di lain waktu, seorang Austria yang mendengar anak perempuan Kole berbicara dengan temannya, berteriak: “Pulang sana!”

Serangan fisik bagi orang Amerika jarang. Tapi mereka tetap merasa terancam.

Perasaan terancam ini bisa muncul gara-gara saat berada di pesta, misalnya Kole dikepung tamu-tamu dan diminta menjelaskan penyiksaan pada para tawanan di Abu Ghuraib. Atau mengapa Amerika tidak menandatangani konvensi anti penyiksaan. Atau menolak kesepakatan Kyoto soal iklim.

Atau perasaan ini muncul karena Departemen Luar Negeri selalu mengeluarkan seruan agar orang Amerika tidak tampil mencolok, bahkan di negeri seperti Austria.

Kole bahkan mengajarkan kepada anak-anaknya, yang tumbuh remaja di Austria, untuk “tidak terlalu Amerika”. Jadi ia meminta anaknya jangan berbicara bahasa Inggris terlalu kencang di kereta bawah tanah. Jangan menggunakan topi bisbol. Jangan menggunakan sepatu tenis. Jangan sendirian di luar rumah.

Kritik terhadap Amerika sangat kuat di Eropa seperti Wina. Tapi dalam sekejab, kata Kole, kritik itu luruh karena Eropa belum pernah melakukan satu hal: memilih orang kulit berwarna sebagai pemimpin tertinggi mereka.

Menjadi orang Amerika tiba-tiba saja keren. Tidak heran Kole tiba-tiba dicium seorang gadis.

Tempo Interaktif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s