Obroloan tentang gaji


Banyak sekali diskusi dan debat tentang gaji yang beredar di internet. Ada yang menanyakan apakah gajinya dibawah standard dlsb, ada yang iri terhadap gaji orang lain, ada yang bangga setengah mati, ada yang memandang bahwa gaji di negara A lebih tinggi dari negara B dlsb.

Saya sendiri pernah kenal dengan orang yang kayaknya selaluuu risau dengan gaji orang lain, dan selalu bilang bahwa si A lebih tinggi dari si B, si C dibayar paling rendah dan etc. etc..

Bagi saya pribadi, masalah gaji harusnya bisa disikapi dengan cara yang jauh lebih menyenangkan:

1. Gaji adalah urusan rezeki, sementara rezeki bukan melulu gaji semata. Jika kita digaji 1 juta perbulan sementara orang lain (dengan posisi dan background persis sama) digaji 1.5 juta perbulan, berarti rezeki kita berbeda (bukan berarti kalah) di masalah gaji saja, karena bisa saja rezeki kita disisi lain (di kebahagian hidup, kesehatan dlsb) justru lebih tinggi dari teman kita tersebut. Termasuk juga rezeki ‘untuk bisa mensyukuri rezeki…’

2. Gaji kita untuk kita, gaji orang lain untuk orang lain. Jadi percuma meributkan gaji si A karena si A ngga ada kewajiban untuk memberikannya ke kita he he. Pikirkan gaji diri sendiri (dan bekerjalah lebih baik) karena yang ditanya oleh Allah nanti tentang bagaimana kita memanfaatkan gaji (dan rezeki yang lain) dalam hidup ini

3. Jangan melakukan Generalisasi yang berlebihan. Ketika kita ingin mengetahui berapakah selayaknya kita mendapat gaji, kita kadang melakukan survey dan analisis, namun jangan salah bahwa “salary is what we actually earn, not what we suppose to earn”. Juga jangan dilakukan analisis brutal yang mengatakan kalau di negara A PASTI gajinya lebih rendah dari B dst (untuk kasus expatriate), karena sepanjang pengetahuan saya selalu case-by-case. Jika ada orang Indonesia yang digaji USD 7500/month di Malaysia bukan berarti seluruh orang Indonesia yang mau bekerja di Malaysia mengatakan itulah standard gaji di Malaysia. Juga kebalikannya.

Lihat dengan mata jernih: di era globalisasi ini, batas2 geografis dan batasan nationality sudah mulai memudar…

4. Salary is important, but Saving is more important. Jangan salah mengejar gaji tinggi tapi anda gak bisa saving (karena living cost dan living style yang meroket). Untuk itu pastikan bahwa kita bisa menabung (dari gaji kita) sesuai dengan harapan kita tapi tanpa menurunkan standard hidup kita. Ingat bahwa living cost dan tax bisa sangat tinggi yang ujung2nya membuat orang yang bergaji tinggi akhirnya menabung dengan jumlah yang sama dengan orang yang bergaji rendah tapi hidup di Indonesia.

5. Buat Moslem, ayat pertama di surah At Takatsur (alhakumut takatsuur…) dan ayat terakhir di surah Ad Dhuha (wa ‘amma bi ni’mati…) bisa menjadi renungan:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu…”

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu. maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”

catutan murni dari http://kampungmelayu.wordpress.com/

dengan judul aseli – diskusi tentang gaji

2 thoughts on “Obroloan tentang gaji

  1. acooljerk berkata:

    Mas, klo udah bawa2 agama ya susah.
    Segala argumen lain pasti kalah klo udah bawa2 ajaran agama, jadi buat apa didiskusikan lagi…

  2. @acooljerk:
    memang agama harus melingkupi segala sendi kehidupan….

    agama adalah petunjuk…sayang kalo hidup tidak menggunakan fasilitas (petunjuk) yg telah disediakan,

    so, whats wrong?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s